Selasa, 12 Mei 2009

Revolusi dan Masyarakat Islam yang Sebenar-benarnya



Oleh | Mas’udi Baharuddin**


Perubahan radikal sebagai sebuah cita-cita ideal yang tidak akan pernah ada dalam kepala seseorang, tatkala kondisi yang mengitarinya secara obyektif mengindikasikan bahwa tidak ada hal yang perlu diubah. Namun sebaliknya, realitas yang kerusakannya semakin akut akan membuat orang banyak berpikir tentang perubahan dan menjadikannya sebagai agenda yang patut mendapat perhatian penting.
Realitas masyarakat dunia yang berkiblat pada peradaban kapitalistik dewasa ini secara signifikan berimpilikasi negatif terhadap eksistensi peradaban kemanusiaan secara menyeluruh. Seluruh sisi kehidupan manusia kian mengalami kerusakan akibat mengguritanya nilai-nilai kapitalistik yang kemudian ‘memaksa’ banyak kalangan untuk berikhtiar membangun peradaban baru yang lebih santun.
Komunitas mahasiswa sebagai kelas masyarakat mekanik memilki banyak bekal yang dapat dimaksimalkan bagi upaya perubahan yang terus digelontorkan. Mereka juga menempati posisi strategis dalam roda perubahan yang tengah bergulir. Olehnya, tidak layak jika seorang mahasiswa bersikap apatis terhadap realitas yang kian rusak dan jauh dari nilai-nilai ideal. Sebagai agen perubahan, seorang mahasiswa memiliki peranan penting dan harus peka, responsif serta turut ambil bagian dalam mengusung peradaban baru yang lebih baik bagi masyarakat dunia secara umum. Aktivitas keorganisasian jangan sampai hanya menjadi rutinitas belaka yang kehilangan orientasi perubahan fundamental. Diskusi-diskusi yang bermuara pada perubahan radikal harus kembali dihidupkan dan mewujud dalam bentuk aksi konkrit. Teori-teori tentang perubahan tidak layak jika hanya menjadi kegaduhan di forum-forum debat, diskusi, dialog dan sejenisnya, tapi kehilangan sisi aplikasinya di lapangan. Para aktivis bukanlah kumpulan orang yang maksim teori namun minim aksi. Tapi sebaliknya, kata dan lakunya harus berbanding lurus.
Telah jamak diketahui bahwa tanggungjawab untuk memperbaiki kemerosotan peradaban tak dapat dipikul oleh individu. Ia harus menjadi kesadaran kolektif di mana setiap orang dapat memahami apa yang menjadi tugas utamanya. Dari kesadaran inilah kemudian muncul gerakan secara massif. Organisasi yang bermunculan dalam berbagai variannya dapat dimaknai sebagai implikasi kesadaran berjamaah yang ada dalam diri setiap orang. Dengan kata lain, berorganisasi telah menjadi naluri setiap orang dalam tinjauan psikologi sosial. Perubahan memang keniscayaan, tapi nyaris mustahil dipikul seorang diri.
IMM sebagai organisasi otonom sekaligus sayap dakwah Muhammadiyah di lingkungan mahasiswa memiliki potensi yang sebaiknya dimaksimalkan dalam proses perubahan yang terus bergulir. Setiap komponen dalam Ikatan diharapkan memiliki kepekaan terhadap pembentukan peradaban yang ideal dan membawa kemaslahatan bagi kehidupan kemanusiaan lintas suku, warna kulit, bahasa, bangsa, bahkan agama dan keyakinan.
Pertanyaan asasi yang perlu dijawab lintas gerakan Islam sekarang ini adalah perubahan seperti apa yang sebenarnya dicita-citakan? Pertanyaan ini amat urgen untuk dilontarkan sebagai ikhtiar dalam menyamakan persepsi agar format dan energi gerakan menjadi efektif serta efisien dalam tataran praksis di lapangan. Juga dalam rangka membangun komitmen bersama bahwa semua gerakan Islam bermuara pada satu tujuan yang dicita-citakan secara kolektif. Dengan demikian, interaksi yang sejuk lintas gerakan Islam juga dapat dibangun.
Kajian terhadap realitas menjadi sangat penting untuk digalakkan dalam usaha menentukan format gerakan. Dengan mengamati realitas peradaban dunia saat ini yang terutama dimotori pihak Barat yang kapitalistik, dapat disimpulkan bahwa kerusakan yang ditimbulkan ternyata bersifat sistemik-multidimensional. Dari sisi ekonomi, peradaban kapitalis membuka kran selebar-lebarnya buat perampokan yang dilakukan oleh orang-orang berdasi yang amoral di mana kesenjangan antara si kaya dan si miskin semakin menganga dengan ekonomi neo liberalnya. Dalam bidang politik, bermunculan politikus dengan mental-mental pragmatis, sehingga aspirasi masyarakat secara luas seringkali tak terwakili oleh mereka yang mengaku wakil rakyat. Kenaikan harga BBM di tanah air menarik untuk dijadikan sebagai contoh kasus, dalam hal ini kesenjangan antara aspirasi dan kenyataan yang ada menjadi sangat jelas. Sebab, masyarakat luas tak pernah meminta agar harga BBM dinaikkan, bahkan kebanyakan mereka mengeluhkan kebijakan tersebut. Sementara itu, dalam bidang budaya, pihak Barat sengaja mengimpor budaya hedonis yang pada gilirannya memunculkan masyarakat amoral. Dalam bidang pendidikan, terjadi kapitalisasi yang bermuara pada sebuah kenyataan bahwa pendidikan hanya mungkin dinikmati oleh kelas masyarakat berduit. Demikianlah, Implikasi negatif peradaban kapitalis menyentuh hampir seluruh sisi kehidupan manusia. Dengan demikian, agenda perubahan yang digalakkan harus bersifat revoluioner, bukan parsial.
Sementara kalangan memang seringkali beranggapan bahwa revolusi berpotensi menumpahkan darah dan menelan banyak korban. Persepsi seperti ini sedikit banyak dipengaruhi oleh trauma terhadap revolusi yang dijalankan ideologi-ideologi lain di luar Islam. Pada dasarnya, jika gagasan revolusi diusung sesuai alur berpikir Islami, maka tidak berpotensi membawa pertumpahan darah dan jauh dari aktifitas kekerasan secara fisik, sekalipun tentunya terdapat gejolak yang memang tak dapat dihindari dan sangat wajar dalam proses perubahan dalam bentuk apapun. Sebab, dalam proses perubahan radikal memang selalu terjadi benturan antar peradaban dan ideologi yang tak mungkin dielakkan. Benturan yang ada dalam revolusi Islam adalah benturan pemikiran dan ideologi yang terus digulirkan sampai peradaban kapitalis menemui ajalnya dan tiba saatnya diganti dengan peradaban Islam yang membawa kemaslahatan bagi kehidupan kemanusiaan secara umum.
Sementara itu, sebagian pihak berasumsi bahwa revolusi adalah gagasan yang terlalu muluk-muluk, irealistis, hiper-idealis dan tentunya ‘berbahaya’ bagi status quo yang masih dipertahankan. Para aktivis yang mengusung ide revolusioner selalu dicap sebagai ekstrimis, anti dialog, keras kepala, dan tak mau kompromi. Padahal, revolusi adalah gagasan yang relevan dan justru sangat realistis karena kondisi zaman memang menuntut perubahan revolusioner berdasarkan hasil kajian terhadap realitas yang tingkat kerusakannya sudah tak dapat dimaafkan. Maka realistisitas dapat dimaknai sebagai kesesuaian antara cara bersikap dengan realitas obyektif yang ada.
Tidak sedikit dari kalangan aktivis muslim yang beranggapan bahwa peradaban kapitalis harus diubah secara bertahap. Menurut mereka, Islam memang merupakan solusi bagi kemerosotan peradaban, namun harus diterapkan secara bertahap. Alasan yang seringkali terdengar adalah bahwa Al-Qur’an diturunkan secara bertahap sesuai dengan peristiwa-peristiwa tertentu. Analogi semacam ini tampaknya kurang tepat, karena tidak terdapat korelasi antara metode perubahan peradaban sekarang ini dengan proses diturunkannya Al-Qur’an secara bertahap. Perubahan secara gradual hanya mungkin dilakukan jika kerusakan realitas bersifat parsial. Namun menjadi tidak relevan untuk dijadikan metode dalam pembentukan format gerakan jika kenyataan menunjukkan bahwa kerusakan yang akan diubah pada kenyaataannya bersifat fundamental dan multidimensional. Dalam hal ini, kenyataan zamanlah yang membentuk format gerakan.
Konsep perubahan lain yang perlu dikritisi adalah pernyataan bahwa perubahan harus dimulai dari individu dengan asumsi bahwa masyarakat adalah kumpulan individu. Maka terciptanya individu-individu dengan akhlak dan hati yang bersih yang kemudian menjadi dominan di tengah-tengah masyarakat secara otomatis akan mengubah kondisi masyarakat menjadi lebih baik. Gagasan ini membawa kesan tidak logis, sebab masyarakat tidak hanya merupakan kumpulan individu, mereka berinteraksi satu sama lain berdasarkan sebuah aturan hidup dan ideologi tertentu yang dalam hal ini ideologi kapitalis. Pun terdapat pemikiran-pemikiran yang berkembang di tengah-tengah mereka. Perubahan yang dicita-citakan harus bersifat menyeluruh, baik dalam hal pemikiran, moral, maupun secara ideologis. Kegagalan ideologi kapitalis dalam membangun peradaban kemanusiaan yang berkeadaban membuatnya memang layak untuk diasingkan dalam keranjang sampah peradaban. Oleh karena itu, para aktivis sebaiknya melihat persoalan yang tengah dihadapi secara mendasar, obyektif dan menyeluruh. Selaku agen perubahan, seorang mahasiswa sepatutnya tidak berpikir seadanya, alakadarnya dan minimalis, namun diharapkan memilki idealisme dan berpandangan jauh ke depan melampaui kelas masyarakat lain.
Usaha dekonstruksi peradaban kapitalis harus dibarengi dengan usaha perumusan sebuah peradaban alternatif sebagai sebuah solusi di mana peradaban ini disosialisasikan kepada khalayak umum dan telah dideskripsikan dengan baik jauh sebelum kejatuhan peradaban kapitalis. Prinsip tiba masa tiba akal dihindari sedemikian rupa agar peradaban dunia tidak berada pada kondisi serba tidak pasti pasca revolusi menuju peradaban baru yang menjadi idealisme bersama.
Masyarakat Islam adalah muara dari revolusi yang digalakkan lintas gerakan Islam karena masyarakat Islam adalah model masyarakat ideal yang harus diyakini bersama dapat melahirkan peradaban yang memuaskan semua pihak, baik antar suku, bahasa, bangsa, warna kulit, bahkan agama dan keyakinan. Perumusan potret masyarakat Islam dapat dikawal oleh berbagai lintas gerakan Islam termasuk di dalamnya Muhammadiyah sebagai organisasi yang memiliki basis massa yang diperhitungkan. Apalagi, dalam konteks kemuhammadiyahan, masyarakat Islam telah diposisikan sebagai maksud dan tujuan utama Persyarikatan, sekalipun secara internal, bentuk masyarakat Islam yang menjadi idealisme persyarikatan Muhammadiyah juga masih diperbincangkan.
Masyarakat Islam terkadang diidentikkan layaknya civil society. Padahal, konsep civil society secara historis memiliki konteksnya sendiri yang justru jauh dari nilai-nilai Islam. Civil society lahir dari rahim peradaban Barat yang kelam di mana terjadi kegelisahan atas dominasi kaum gerejawan yang mulai bertidak represif atas nama tuhan. Sementara itu, kaum intelektual merumuskan konsep civil society sebagai pra kondisi bagi terbelenggunya peran agama melalui proses sekularisasi yang kemudian melahirkan demokrasi sebagai sistem politik yang diyakini dapat menggantikan peran kaum agamawan dalam sistem politik monarki. Dalam konteks ini, konsep masyarakat Islam kehilangan makna otentiknya dan lebih cenderung dimaknai layaknya masyarakat sekular yang membatasi peran agama (baca: Islam) dalam kehidupan bermasyarakat.
Civil society juga tak layak dibumbui dengan istilah yang terkesan Islami dengan menganalogikannya seperti “masyarakat madani” yang mengacu pada konsep masyarakat yang pernah dibangun Rasulullah saw. kurang lebih empat belas abad silam. Sebuah pemikiran ataupun konsep tak patut ditafsirkan dengan mengacu pada sesuatu yang berada di luar konteksnya. Hal ini pada gilirannya akan membuat kejernihan konsep masyarakat Islam menjadi keruh di tengah-tengah warga Persyarikatan, hanya karena labelisasi berbau Islam yang tidak proporsional.
Wacana mengenai definisi masyarakat Islam dalam konteks ini tidak hanya relevan untuk kembali diperbincangkan, tetapi sangat penting sebagai sesuatu yang semestinya menjadi master plan lintas gerakan Islam. Dalam kerangka pemikiran Islami, definisi masyarakat Islam mengacu pada masyarakat yang dicontohkan oleh Rasulullah saw. di Madinah. Sebagai seorang revolutor terkemuka yang pernah ada, Muhammad saw. dapat dijadikan rujukan dalam meletakkan pondasi bagi pembangunan masyarakat Islam sebagai kiblat peradaban dunia yang menyejukkan di tengah kegersangan dan kemerosotan moral dewasa ini. Islam menjadi acuan utama dalam proses pembentukan masyarakat Islam sebagaimana diindikasikan dalam maksud dan tujuan Muhammadiyah, menegakkan dan menjunjung tinggi agama Islam adalah kausa bagi terbentuknya masyarakat Islam yang sebenar-benarnya.
Perubahan fundamental yang dicetuskan Rasulullah saw. juga berdampak positif pada perkembangan dunia dalam berbagai dimensi. Jazirah Arab yang tadinya tak diperhitungkan dalam percaturan politik internasional tiba-tiba muncul ke permukaan dan menjadi peradaban yang disegani bangsa lain. Peradaban Islam telah mampu melahirkan praktik kerukunan antar suku, bahasa, warna kulit, bahkan antar umat beragama di mana setiap keyakinan dapat hidup berdampingan secara harmonis di bawah naungan Islam di saat kerukunan lintas agama di pihak lain justru baru mewacana. Pada masa-masa berikutnya, kemajuan dalam berbagai bidang dapat diraih umat Islam yang kemudian menjadi kiblat peradaban dunia dalam rentang waktu belasan abad lamanya.
Masyarakat Islam seperti inilah yang semestinya dibangun bersama sebagai titik terang dan jalan keluar dari gelapnya lorong krisis multidimensi yang mengitari peradaban kemanusiaan secara keseluruhan. Para aktivis Muslim sebaiknya memiliki mental yang berkeyakinan bahwa peradaban Islam lebih unggul dari yang lain. Ini soal mental, karena ide dan gagasan di luar Islam seringkali lebih silau. Mengapa harus mencari ‘produk luar’ jika ‘produk lokal’ lebih berkualitas! Dalam lintasan sejarah, hanya peradaban Islam yang memiliki kemampuan untuk mengungguli peradaban Barat yang menjadikannya layak dikaji. Terlalu ideal memang, tapi bagaimanapun para aktivis, mahasiswa, akademisi, kaum intelektual muslim maupun mereka yang memiliki idealisme akan selalu mempunyai keberanian untuk bercita-cita ideal bagi kepentingan dan kemaslahatan peradaban dunia yang lebih baik.
Fastabiqul Khairāt
Wallāhu a’lam bishshawāb.

**Mantan Ketua IMM Komisariat Pendidikan Ulama Tarjih Pimpinan Pusat Muhammadiyah [PUTM], Yogyakarta)

Kamis, 19 Maret 2009

Karl Hendrich Marx dan Revolusi Sosial


1.1.Prawacana
Revolusi bisa diartikan sebagai perputaran, rotasi cepat atau lebih tepatnya perubahan yang berlangsung secara cepat . Sementara sosial berasal dari akar kata social yang berarti “pertemuan silaturrahmi/ramah tamah atau bisa juga kemasyarakatan ”. Namun tak mungkin bila dalam pengertian ini yang diambil oleh penulis sosial dengan pengertianya sebagai ramah tamah/silaturrahmi.
Sementara pengertian yang tepat dalam hemat penulis, “sosial” dalam artian kemasyarakatan. Jadi bila digabungkan pengertian kebahasaan diantara keduanya, revolusi sosial berarti perubahan cepat yang didodorong oleh semangat kemasyarakatan. Namun lebih jauhnya nanti penulis akan memaparkan hal ini dalam pendefinisian lebih jauh lagi.
Setiap revolusi sosial yang terjadi di dunia, semisal revolusi Prancis dan revolusi Cina para ilmuan ataupun para akademisi selalu mengaitkanya dengan nama Karl Heindrich Marx. Apa sesungguhnya yang terjadi dengan hal itu. Bahkan dalam sebuah diskusi dikatakan Reformasi yang terjadi di Indonesia pada tahun 1998 dikaitkan pula dengannya. Hal ini tentunya menjadi pendorong tersendiri bagi penulis untuk mengkaji keterkaitan antara Marx dengan revolusi itu sendiri.
Dalam tradisi Marxisme, --aliran Marx atau penganut Marx-- istilah revolusi sosial tidaklah femiliar dikenal, yang lebih dikenal dalam tradisi Marxisme adalah revolusi nasional, borjuis, proletar dan industri. Dalam Kamus Kecil Marxisme , revolusi diterjemahkan dengan pengertian “perebutan kekuasaan Negara oleh kelas yang baru dan maju, umpamanya revolusi Prancis yang terjadi pada tahun 1789 dan revolusi Rusia pada tahun 1917”.
Revolusi nasional yang pada umumnya terjadi sebagai perjuangan Negara terjajah untuk melawan kekuatan asing atau Negara penjajah. Revolusi nasional ini lebih mudahnya sebagaimana yang terjadi di Indonesia ketika melawan pemerintah kolonial Belanda dulu.
Revolusi borjuis merupakan revolusi yang terjadi sebagai gerakan kaum capital atau pemilik modal untuk menggulingkan kekuasaan pemerintah yang berkuasa. Sementara revolusi ploretar merupakan rovolusi yang dilakukan oleh kelas tertindas, kaum buruh atau petani terhadap kaum borjuis pemilik modal. Adapun revolusi industri merupakan perubahan besar-besaran dalam bidang industri.
Dari bebarapa istilah revolusi yang dikemukakan di atas menurut hemat penulis yang dekat pengertianya dengan revolusi sosialisnya Marx adalah revolusi ploretar. Mengingat dalam tulisan Magnis Suseno , ketika memaparkan mengenai gagasan Marx untuk membebasakan ketertindasan kaum buruh, dalam sejarah yang dipakainya adalah sejarah mengenai pertentangan kelas. Sehingga revolusi ploretar ini dalam perkembanganya sering dikatakan sebagai revolusi sosial.
Tulisan ini lebih khususnya akan memaparkan mengenai pemikiran Marx dan bagaimana hubunganya dengan revolusi sosial yang terjadi sebagaimana yang telah disinggung di muka. Perlu dicatat revolusi sosial yang penulis maksud bukanlah revolusi sosial dilihat dalam bentuknya yang konkrit seperti revousi Rusia dan Tiongkok. Tetapi revolusi sosial yang penulis maksud adalah dalam ranah gagasan awal ketika Marx berpikir untuk membebasakan ketertindasan kaum ploretar.
Hal inilah yang penulis rasa paling tepat untuk melihat bagaimana keterkaitan pengaruh pemikiran Marx terhadap revolusi sosial yaitu hanya berlaku dalam ranah nalar (gagasan) bukan dalam ranah praksis. Mengingat gagasan Marx sendiri sebetulnyta terwujud berkat penafsiran-penafsiran pemikir-pemikir berikutnya yang bekerja dalam wilayah revolusi praktis, seperti Mao di Cina dan Lenin di Rusia.
Didasarkan pada pra wacana di atas maka ada dua pertanyaan yang akan penulis ajukan:
1. Apa yang menjadi basis pijakan pemikiran Marx ?.
2. Bagaimana gagasan Marx mengenai Revolusi Sosial?

1.2.Manifesto Marx
‘Dimanakah adanya satu partai oposisi yang tidak dicap komunis oleh lawan-lawanya yang sedang berkuasa?. Dimanakah ada partai oposisi yang tidak membantah dengan baik melempar tuduhan komunis pada partai oposisi lain yang lebih radikal, juga terhadap lawan-lawannya yang reaksioner itu’ .

Kutipan di atas merupakan kutipan yang dikutip kembali oleh Kususmandaru terhadap tulisan Marx dengan judul The Bourgeois Intelegentia’s Methods of Stuggle Against the Works dalam Die Neue Reinische Zeitung yang ditulis Marx pada Juni tahun 1848.
Sebetulnya kutipan dari tulisan Marx di atas merupakan secuil paragraf dari salah satu buku fenomenal yang ditulisnya yaitu Manifesto Komunis. Buku yang ditulis Marx selama hampir Dua bulan ini merupakan buku yang paling ditakutkan dalam sejarah perlawanan umat manusia. Tak ada satupun perubahan radikal di abad 20 dan 21 melainkan terinspirasi oleh semangat revolusioner yang tertera dalam buku itu.
Dan jadilah dokumen itu menjadi dokumen yang paling berpengaruh sepanjang millenium kedua ini. Dokumen yang paling diktakuti oleh para penguasa. Dokumen yang telah memberi inspirasi pada jutaan kaum revolusioner di seluruh dunia, di berbgai masa .

Begitu besarnya pengaruh buku Manifesto Komunis ini terhadap perlawanan radikal kaum revolusioner, sehingga bisa dikatakan Manifesto Komunis menjadi roh penggerak dari setiap revolusi soial yang terjadi. Maka pantas sebagai penghormatan terhadap penulisnya seorang Ramdani mengatakan tak ada revolusi sosial yang tidak disandarkan atas nama Marx sebagai penulisnya.
Keberadaan Manifesto Komunis selain menyandarkan pada nama besar Marx juga tidak bisa dipisahkan dengan berlangsungnya Kongres Liga Komunis II pada akhir tahun 1847. Seluruh hasil perdebatan mengeani program-program dari gagasan setiap distrik perwakilan elemen buruh internasional. Dan yang mengampu beban untuk menuliskan dan merumuskan kesimpulan program-program hasil perdebatan dalam Liga Komunis II itu adalah Marx. Di sinilah penulis kembali menegaskan, wajarnya Marx diangungkan karena namanya memang berjasa terhadap keberadaan Manifesto itu.
Manifesto merupkan dokumen yang paling penting untuk menilai suatu organisasi karena Manifesto tersebut memaparkan apa dan bagaimana oraganisasi itu? Dasar pemikiran, tujuan, strategi dan prinsip umum, berikut program-program mendesaknya. Kusumandaru mengatakan, “Partai dan organisasi politik yang tidak memiliki Manifesto adalah partai canda tawa ---- cocok untuk tempat hura-hura, pesta poltik dan cari duit sampingan, tapi tidak untuk bertempur mencari demokrasi” .
Maka sebetulnya dari Manifesto inilah penulis bisa mempelajari gagasan-gagsan revolusioner Marx. Tentunya gagasan yang penulis maksud bukan dalam bentuk pembacaan langsung yang penulis lakukan terhadap buku Manifesto itu sendiri, melainkan penulis membacanya dari sudut pandang penafsir Marx atau mereka yang menulis dan mengkaji pemikiranya. Inilah yang dijadikan pijakan oleh Marx sehingga pemikiranya sangat berpengaruh terhadap terjadinya setiap revolusi di dunia.

1.3.Gagasan Marx
Garder dalam bukunya Dunia Sopie ketika menjelaskan mengenai Marx mengatakan kalau Marx mempercayai bahwa dalam seluruh perjalanan sejarah umat manusia selalu ada pertentangan dua kelas masyarakat yang berlawanan. Pada masyarakat budak jaman kuno, pertentangan terjadi pertentangan terjadi antara budak dengan pemilik budak itu sendiri.
Pada masyarakat feodal abad pertengahan pertentangan terjadi anatara pemilik tanah dengan buruh tani, yang selanjutnya pertentangan ini berkembang luas menjadi pertentangan antara bangsawan dengan masyarakat biasa. Sementara saat ini di era modernitas pertentangan terjadi antara pemilik modal dengan buruh atau pekerja. Garder memperhalus bahasanya Marx dengan mengatakan; “jadi pertentangan itu berlangsung antara mereka yang memiliki sarana produksi dan mereka yang tidak” .
Ketika pertentangan kepentingan terjadi, pemilik modal dengan seenaknya mempekerjakan buruh tak ubahnya dengan pengembala berlaku terhadap hewan. Sisi kemanusian dari buruh tidak dilihat sama sekali, yang terjadi adalah pengisapan tenaga secara membabi-buta. Buruh terjebak dalam ganasnya udara pengap pabrik, kondisi ruangan yang rentan terhadap kesehatan, sungguh kondisi yang sangat beresiko. Ditambah jam kerja yang hampir mencapai 12-15 jam dalam satu hari, hal ini semakin memperparah keberlangsungan sejarah umat manusia.
Dengan kondisi seperti ini, buruh dijebak dalam proses pemiskinan, upah minim tidak mampu mencukupi kebutuhan hidup mereka. Marx berpendapat tindakan yang harus ditempuh adalah melakukan propaganda yang bisa membangkitkan semangat supaya terjadinya pemberontakan terhadap pemilik modal.
Andai pemberontakan dengan cara merebuk kepemilikan modal tidak dilakukan oleh kaum proletar terhadap kaum borjuis. Posisi mereka tetap tidak akan pernah berubah. Terus terbelenggu dalam garis edar kemiskinan struktural. Mengingat kemiskinan yang dialami mereka merupakan kemiskinan yang diciptakan bukan kemiskinan yang terjadi secara alamiah. Kepemilikan modal tetap berbutar hanya di kalangan borjuis, modal tidak akan pernah sampai ketangan kaum proletar ---seolah ada garis pembatas di antara keduanya----.
Selanjutnya yang mesti dilakukan adalah kaum buruh ---sebagai representatif kalangan ploretar---- “harus mengorganisasikan diri dalam serikat-serikat buruh dan solidaritas antara mereka semakin kuat” . Menurut Nyoto dalam tahapan ini serikat buruh harus dipecah dalam berbagai gerakan, tidak boleh hanya diwadahi oleh satu organisasi saja. Tetapi harus tetap dalam satu komando berupa landasan semangat pemberontakan untuk pembebasan. Strategi ini bertujuan supaya ketika salah satu organisasi tertekan, atau bahkan dibubarkan organisasi lainya tetap bisa eksis. Sehingga kekuatan dan cita-cita kaum buruh tetap hidup.
Andai semua kekuatan buruh yang terpecah-pecah dalam berbagai organisasi itu sudah masif, maka perubahan dengan pemberontakan tidak bisa dihindari. Bergerak dalam satu komando dengan falsafah “hancurkan hari ini dan bangun hari esok”. Marx mengatakan; perubahan hanya bisa dilakukan dengan revolusi” . Tidak peduli berapa pun korban yang akan berjatuhan, tidak peduli kerusakan apa yang akan ditimbulkan, yang terpenting kaum buruh harus terbebaskan.
Inilah dalam hemat penulis senjata ampuh solusi yang ditawarkan oleh Marx untuk mengakhiri eksploitasi kalangan borjuis terhadap orang-orang proletar. Berupa pemberontakan terorganisir yang dilakukan oleh buruh sebagai aktor di lapangan, yang sebetulnya dalam hemat penulis pemberontak sesungguhnya adalah aktor intelektual yang melakukan propaganda dan mengorganisir kalangan buruh itu sendiri dalam organisasi-organisasi serikat buruh. Pemberontakan semacam ini dikenal untuk saat ini dengan istilah revolusi sosial .
Marx --sebagaimana yang penulis pahami--, kembali melanjutkan gagasanya. Menurutnya setelah revolusi terjadi akhirnya yang akan timbul adalah masyarakat tanpa pertentangan kelas atau lebih dikenal dengan istilah masyarakat tanpa kelas. Tidak ada lagi orang kaya dan tidak ada lagi orang miskin, semuanya sama tanpa ada perbedaan dalam hak dan kewajiban, juga tidak ada diskriminasi dalam status sosial dan kehormatan.
Dimana menurut Suseno; “dalam masyarakat tanpa kelas Negara sebagai panitia untuk mengurus kepentingan borjuasi” . Negara mempunyai andil yang cukup besar untuk mengendalikan faktor-faktor terutama sumber daya produksi kepemilikan individu dihilangkan semuanya dimiliki dan diatur oleh Negara. Individu hanya menerima dan memanfaantkan fasilitas-fasilitas yang disediakan oleh Negara.
Ketika sudah sampai pada titik ini, Negara yang berkuasa atas semua kepemilikan dan pengaturan kekayaan. Maka menurut Engels, revolusi sosial dalam menyelesaikan masalah ketertindasan kaum proletar menjadi ‘loncatan umat manusia dari kerajaan keniscayaan ke dalam kerajaan kebebasan’ .
Menurut Maududi, --pemikir muslim dari Pakistan----bila Negara telah berkuasa penuh atas semua kekayaan, Marx menganjurkan “alat-alat produksi hendaklah diambil dari perorangan dan dipindahkan ke dalam tangan masyarakat untuk dimiliki secara bersama” .
Karena bagi Qaradhawi,---pemikir muslim dari Universitas Qatar---, “pengakuan terhadap prinsip pemilikan dalam pandangan kaum Marxian (termasuk Marx) adalah sumber kedzaliman dan penyimpangan, harus ditinggalkan dan dihancurkan” . Adapun untuk pemakaian atas kekayaan tersebut Maududi mengatakan dalam paham Marx harus diusahakan pembagiaan kekayaan alam kepada setiap orang sesuai dengan kebutuahan.
Tanpa bisa dipungkiri bila menemukan indikasi seperti itu telah terjadi dalam suatu ruang lingkup masyarakat atau bangsa, maka inilah masyarakat komunis yang terlahir dari revolusi sosial yang digagas oleh seorang nabi tanpa wahyu ---meminjam bahasanya Kususmandaru--- Karl Hendrich Marx. Sebagaimana yang dikemukakan Suseno; “ciri-ciri inti masyarakat komunis adalah penghapusan hak milik pribadi atas alat-alat produksi dan penghapusan adanya kelas-kelas sosial” .
Menurut Marx, ketika masyarakat komunis terbentuk, maka orang tidak terbatas pada bidang kegiatan ekslusif, tetapi bisa mendapatkan kecakapan dalam apa yang diinginkan. Masyarakat bisa mengatur produksi umum, dengan demikian mereka bebas mau mengerjakan kapan pun sesuai dengan kehendak nuraninya, tanpa ada keterpaksaan.
Sekali lagi, inilah kebebasan dan kedamaian hidup masyarakat komunis sebagai buah dari kerja keras mereka dalam mewujudakn revolusi sosial.

1.4. Epilog
Dari apa yang disampaika penulis di atas dapatlah disimpulkan:
1. Begitu besarnya pengaruh buku Manifesto Komunis yang ditulis oleh Marx terhadap perlawanan radikal kaum revolusioner, sehingga bisa dikatakan Manifesto Komunis menjadi roh penggerak dari setiap revolusi social yang terjadi, sehingga buku ini pula yang menjadi basis atau sumber dari pemikiran revolusi sosialnya Marx.
2. Revolusi sosial merupakan gagasan yang digagas oleh Marx sebgai jalan keluar untuk mengeluarkan ketertindasan kaum ploretar dari cengkraman eksploitasi kaum borjuis. Marx menggas ini dengan terlebih dahulu mempelajari sejarah masyarakat yang selalu dihadapkan pada pertentangan kelas. Ketika recolusi sosial terjadi, maka kenyamanan hidup akan didapatkan oleh kaum ploretar, pertentangan kelas akan berkahir karena factor dan sumber daya produkis dikuasai oleh Negara.
Hal lain yang perlu dicamkan, kajian kritis mesti terus kita lakukan terhadap bangunan-bangunan epistemologi Marx ini. Dalam tulisan lain penulis sebetulnya mendapatkan kerancuan terhadap bangunan epistemologinya. Kajian yang kita lakukan sebagai kader IMM cabang A.R Fakhruddin, bukan untuk mendukung dan mewujudkan gagasanya. Melainkan kita harus membongkar semua kerancuan yang ada pada gagasan-gagasanya. Saya kira, yang membaca tulisan ini andai memahami gagasan-gagasan Koentowioyo, Amien Rais, dan Ali Syariati tentu akan bersepakat dengan saya.


Daftar Pustaka

Echols, Shadily 2006, Kamus Inggris Indonesia. Gramedia.
Garder, Justin 2004. Dunia Sopie. Mizan.
Kusumandaru, Kenbudha 2006, Karl Mark, Revolusi dan Sosialisme. Resist Book.
Suseno Magnis, Franz 2001, Pemikiran Karl Marx dari Sosialisme Untopis ke Perselisishan Revolusion. Gramedia.
Tim Prima Pena 2006, Kamus Ilmiah Populer. Gitamedia Press.
Gourd , L.Harry 1952, Kamus Marxisme. Dalam htp//. www.geocitie.com
Nyoto 1962, Marxisme Ilmu dan Amalnya. Dalam htp//. www.geocitie.com

Selasa, 10 Maret 2009

Refleksi atas Realitas Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah

oleh | Cehar Mirza


Bangun dan bangkitlah!

Robohkan fondasi istana kaum kaya

Didihkan darah kaum tertindas dengan api iman

Ajarlah burung gereja biar berani melawan elang

Saat rakyat berdaulat sudah dekat

Hapuskan sisa-sisa hukum dan kebiasaan masa lalu

Buanglah bulir gandum di tegalan

Yang gagal memberi kehidupan kaum tani…

(Sir Muhammad Iqbal)

Sudah sekian lama tidak terasa Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah terlahir. Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah terlahir atas sebuah realitas yang menuntut untuk hadir dalam sebuah sejarah bangsa ini. Tuntutan untuk melahirkan kader-kader yang amanah dan mampu untuk meng-elaborasikan kepentingan individu dengan kepentingan bangsa untuk keluar dari penjajahan. Ikatan Mahasiswa terlahir atas kebutuhan jaman pada saat itu. Kebutuhan untuk mendidik para pemimpin-pemimpin muda yang lahir dari rahim perjuangan bangsa yang dielaborasikan melalui organisasi-organisasi kemahasiswaan. Tumpuan untuk membangun karakter-karakter yang idealis serta penuh dengan gagasan murni yang realistis menjadi titik tolak terlahirnya ikatan Mahasiswa Muhammadiyah. Melalui kader-kadernyalah Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah dikenal oleh masyarakat khususnya masyarakat yang berada di lingkungan kampus. Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah terlahir bukan karena tanpa alasan dan terlahir bukan karena secara kebetulan (a historical accident) akan tetapi terlahir karena adanya keharusan sejarah yang selalu berdinamika dan memiliki proses serta tumbuh dari sikap kesadaran akan sebuah makna kemandirian tanggung jawab moral dan etika yang dimilikinya.

Menurut Agham terlahirnya Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah tidak akan bisa terlepas dari pengaruh internal maupun eksternal. Pengaruh internal, Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah tidak akan bisa terlepas dari organisasi Induknya yaitu persyerikatan Muhammadiyah. Karena Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah adalah organisasi yang terlahir secara langsung dari rahim persyarikatan Muhammadiyah yang memiliki misi untuk merubah sebuah kaum dari kejahiliaan menuju kaum yang berkesadaran dengan Melalui gerakan dakwah amar ma’ruf nahi munkar. Gagasan-gagasan untuk membangun organisasi kemahasiswaan telah ada sebelumnya. Sebuah tuntutan jaman yang mengharuskan ikatan mahasiswa muhammadiyah terlahir.

Dalam sejarahnya Muhammadiyah sebagai induk organisasi mengharuskan untuk membuat sebuah organsisasi yang otonom di tingkat kemahasiswaan dan dengan menghadapi tatanan masyarakat yang baru pada saat itu. Serta muhammadiyah dituntut untuk membentuk sebuah organisasi kepemudaan yang memiliki karakter ideologis yang mampu untuk mengintegrasikan antara religiusitas, humanitas dan intelektual sehingga nantinya mampu untuk membangun muhammadiyah dan mampu untuk menghadang gejala-gejala sosial yang mendeskriditkan bangsa ini nantinya. Melalui mahasiswa sebagai salah satu kaderalternatif yang diinginkan oleh Muahammadiyah yang dapat dipercaya untuk mengelola tatanan baru masyarakat Indonesia ke depan nantinya dan akan membentuk sebuahkultur baru bagi kehidupan umat nantinya.

Pengaruh eksternal

Lahirnya ikatan mahasiswa muhammadiyah tidak bisa dilepaskan dari dialektika sejarah politik bangsa Indonesia saat itu. Terkhusus saat terjadinya dialektika sejarah yang berkaitan dengan sosio-kultural dan pergolakan organisasi kemahasiswaan saat itu. Kira-kira pada tahun 50-an hingga pada saat G30/S PKI pada tahun 1965. Saat itu, pergolakan organisasi kemahasiswaan mengalami jalan buntu. Itu ditenggarai oleh adanya pemberontakan-pemeberontakan yang terjadi, ketika masa perebutan kekuasaan yang dimotori oleh kelompok-kelompok yang berkepentingan seperti PKI. Sehingga organisasi kemahasiswaan hampir stagnasi dalam menjalankan aktifitas secara partisipatif organisatoris. Pada tahun 1957 bertempat di Bandung terjadi pertemuan organisasi-organisasi kemahasiswaan yang diwadahi sebagai konferensi mahasiswa Asia-Afrika. Dalam konfrensi tersebut memiliki kepentingan yang sangatbesar sehingga masing-masing dari organsisasi kemahasiswaan memisahkankan diri. Pemisahan diri disebabkan oleh adanya intervensi kelompok kepentingan yang kuat, kelompok kepentingan saat itu disinyalir adalah PKI sebagai partai yang memiliki organisasi dibawah instruksinya langsung yaitu Consentrasi Gerakan Mahasiswa Indonesia yang salah satunya anggota dari konfrensi mahasiswa. Sehingga dengan pengaruh PKI yang sangat kuat saat itu, maka terjadilah pengusiran terhadap organisasi yang berideologi Islam dan terjadilah perpecahan terjadi pada organisasi kemahasiswaan. Dari situasi yang kelam seperti itu dapat di tarik benang merah, bahwa kesadaran atas nafas baru organisasi kemahasiswaan harus dilahirkan. Terlahirlah Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah ditengah-tengah kehidupan pahitnya sejarah dan dialektika sejarah bangsa ini. Terlahirnya Ikatan Mahasiswa muhammadiyah secara tidak langsung karena, (a) terjadinya gejolak situasi politik pemerintahan saat itu, (b) terjadinya ketegangan politik, intrik politik, teror politik, dan cerai berainya organisasi-organisasi kemahasiswaan, (c) terjadinya kemandekan kebebasan dalam berekspresi dan menurunnya kehidupan social, ekonomi, dan politik sehingga dituntutlah sebuah angin segara organisasi kemahasiswaan yaitu Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah yang nantinya akan mampu menjadi pelopor bagi terciptanya perubahan yang lebih baik di dalam tubuh bangsa Indonesia.

Pada tahun 14 Maret 1964 lahirlah angin segar organisasi kemahasiswaan baru yaitu Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah. Dengan cita-cita yang visionernya menjadikan sebuah organisasi yang dapat menjadi pelopor bagi perubahan sosial bangsa ini. Sudah hampir setengah Abad Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah keluar dari rahim Induknya yaitu Muhammadiyah. Berbagai macam agenda-agenda yang visionernya selalu mewarnai dialektika dalam tinta sejarah bangsa ini sehingga mampu untuk mewujudkan eksistensinya dalam merumuskan gerakan-gerakan pembaharuan gerakan supaya tidak terjerumus dan mudah terbawa dalam arus Globalisasi yang semakin lama tidak menentukan arahnya. Berbagai macam rumusan program telah dirumuskan oleh ikatan mahasiswa muhammadiyah agar untuk menciptakan dinamisasi akselerasi gerakannya dalam dinamika gerakan kemahasiswaan. Melalui visi ikatan kader-kader dapat menjadi pelopor sekaligus menjadi kader ideologis yang dapat mengejewantahkan antara kemampuan nilai diri dan skill secara berkehidupan sosialnya. Visi tersebut termaktup dalam tri kopetensi yang dimiliki oleh setiap kader Ikatan yang dapat tersosialisasikan dalam trilogi ikatan yaitu berfikir (intelektualitas), berkehidupan sosial (humanitas) dan menjadi umat yang beragama (religiusitas).

Setiap kelompok memiliki karakteristik sekolahnya sendiri-sendiri, yang memiliki tujuan melestarikan fungsi tradisionalnya…. Mengukur kualitas secara organis berbagai kaum intelektual dan derajat keterkaitan mereka dengan suatu kelompok sosial yang fundamental (Anthoni Gramsci, 1971 : 40)

Konsep Intelektualitas

Seseorang dikatakan intelektual adalah orang yang memusatkan dirinya untuk memikirkan suatu gagasan dan masalah masalah dengan menggunakan kemampuannya penalarannya secara sistematik dan analisis. Sementara kelompok yang dikatakan intelektual merupakan kelompok yang berada di masyarakat secara ekslusif yang bergaul secara terbatas. Selain itu, kelompok intelektual yang dapat mengelaborasikan dirinya melalui dedikasinya dan kreadibilitasnya sekaligus melibatkan dirinya secara total dan menjelma menjadi secercah harapan yang mencerahkan untuk kepentingan seluruh kaumnya. Kelompok intelektual layaknya sebagai tetesan air ditengah kekeringan gurun safana, ia dapat membawa perubahan dan menyadarkan kaumnya dari kebodohan dan ketertindasan yang terjadi. Kelompok intelektual juga dapat dikatakan sebagai rausyanfikr (pemikir yang cemerlang) yang selalu hadir untuk menyadarkan dan membebaskan kaum yang lemah dari jerat kenistaan dan mengartikulasikan gagasannya tidak hanya sebagai kemampuan soft skill saja akan tetapi sebagai tujuan dalam misi kemanusiaan.

Menurut Hussein Alatas intelektual dapat dikategorikan dan memiliki ciri-ciri social dalam pembentukannya, yaitu ; (a) Mereka yang direkrut dari segala kelas sekalipun dalam proporsi yang berbeda-beda, (b) Mereka dijumpai dikalangan pendukung atau pendukung atau penentang berbagai gerakan kebudayaan dan politik, (c) Pekerjaan mereka bukanlah pekerjaan tangan dan fisik, (d) sampai batas tertentu mereka menjauh dari masyarakat dan selebihnya bergaul di dalam kelompoknya sendiri, (e) mereka tidak hanya tertarik pada segi pengetahuan teknis dan mekanis semata, melainkan memusatkan diri pada suatu diskursus dan manifesnya, serta merangkainya dalam suatu perspektif yang lebih luas dan terbuka, dan (f) Kelompok intelektual merupakan bagian kecil dari masyarakat. Dari kategorisasi bentuk itulah yang menjadikan harga mati para kaum muda untuk masuk dalam kelompok-kelompok yang dinamakan kelompok intelektual. Sebuah alat yang dapat menjadi kampak bagi Nabi Ibrahim untuk mengentaskan berhala-berhala yang membodohkan dan membelenggu pemikiran. Karena secara sistematik para intelektual dapat merumuskan gejala-gejala yang terjadi dan mengambil langkah strategis sehingga nantinya mampu untuk keluar dari problematika yang sering dihadapi. Menurut Alexis Carrel bahwa sejauh manusia masuk didalam dunia luar dan telah mencapai kemajuannya disana, sejauh itu pula ia terasing dari dirinya sendiri dan lupa pada hakikatnya. Selanjutnya adalah apakah Ikatan MAhasiswa nantinya dapat keluar dari belenggu tersebut? Dan bagaimana langkah Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah dapat menentukan langkah untuk keluar dari belenggu tersebut? Pertanyaan ini harus dapat dirumuskan dan direfleksikan secara aplikatif oleh kader-kader ikatan Mahasiswa Muhammadiyah. Karena bangsa ini merindukan kader-kader pelopornya yang lahir dari rahim idealisme-rasionalistik untuk melanjutkan kepemimpinan yang amanah dan berani untuk menyerukan ketidak adilan yang terjadi di tanah pertiwi ini.

Konsep Humanitas

Dalam bahasa latin humanitas ialah makhluk manusia. Menurut Kuntowijoyo humanitas adalah memanusiakan manusia atau menghilangkan “ kebendaan, ketergantungan, kekerasan, dan kebencian dari manusia. Selain itu, Dalam banyak literature humanisme merupakan sebuah faham dari filsafat yang menjunjung nilai manusia dan menjadikan kriteria terhadap sesuatu. Istilah humanisme dalam pengertian ini adalah derivat dari kata-kata humanitas yang pada zaman Cicero dan Varro berarti pengajaran masalah-masalah yang oleh orang-orang Yunani disebut paidea yang berarti kebudayaan. Pada zaman Yunani kuno pendidikan dilakukan sebagai seni-seni bebas, dan ketentuan ini dipandang layak hanya untuk manusia karena manusia berbeda dengan semua binatang. Manusia memiliki akal untuk menentukan arah atau tujuan hidupnya dan manusia memiliki emosional yang sekaligus sebagai penentu arah dalam tujuan kehidupannya.

Kaum humanis bertekad untuk mengembalikan kepada manusia spirit (semangat pembaharuan) yang pernah dimiliki manusia pada era klasik dan kemudian musnah di zaman pertengahan. Spirit (semangat pembaharuan) itu tak lain ialah spirit kebebasan yang telah menjustifikasi klaim-klaim mengenai otonomi manusia dan yang telah merestui manusia untuk mencari kemampuan dalam menentukan kejadian-kejadian yang terjadi dalam lingkungannya secara mandiri. Selain itu juga, humanitas bertujuan untuk menghidupkan dan mengembangkan potensi dan kemampuan yang pernah dimiliki oleh manusia sebelumnya dalam era klasik.

Secara konsepsi humanitas merupakan suatu gejala yang harus dimiliki oleh seluruh kader Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah sehingga nanntinya dapat membentuk sebuah karakteristik dari sikap kemanusiaan. Humanitas tidak hanya gejala sosial saja yang terjadi dalam sejarah tentang kemanusiaan akan tetapi humanitas menjadi sebuah term yang akan membentuk spirit bagi terciptanya perubahan yang terjadi di lingkungan sejarah kemanusiaan. Humanitas pun sebagai fungsi kontrol bagi terciptanya masyarakat yang berkesadaran. Semangat pembaharuan terhadap realitas yang tidak pernah berpihak kepada kaum Mustad’afin menjadi sebuah gejala yang harus disikapi secara teoritik maupun secara teoritik oleh seluruh kader ikatan. Karena dalam pencapaiannya untuk menjadi umat terbaik (khaira ummah).

Menurut Gianozzo Manetti dalam buku Tokoh-Tokoh Besar Humanisme (De Dignitate et Excelentia Hominis) menyebutkan bahwa kitab-kitab suci bukan hanya merupakan satu statemen untuk kebahagiaan transendental, melainkan juga untuk kebahagiaan di muka bumi. Artinya apa ? bahwa secara tektstual kitab-kitab suci tidak hanya dipahami sebagai fungsi transedental saja akan tetapi juga teks yang akan memberikan semangat kontribusi kemanusiaan. Tidak hanya dipahami sebagai teks yang tanpa memilik arti bagi nilai-nilai kemanusiaan atau dimaknai dengan teks dengan teks. Akan tetapi teks yang hidup dan keluar untuk membangun semangat perubahan yang terjadi dilingkungan kemasyarkatan atau dapat dimaknai teks dengan konteks. Hal ini menjadi salah satu nilai dasar yang dimiliki oleh setiap kader-kader ikatan. Menjauhkan diri dari ketimpangan sosial yang terjadi di lingkungannya. Sehingga nantinya dapat mengejewantahkan nilai-nilai profetik yang dimiliki kader-kader ikatan untuk membangun fondasi baru dalam menciptakan masyarakat yang berkesadaran secara fungsi kemanusiaan dan fungsi keagamaan.

Menurut Muhammad Iqbal dalam bukunya “Membangun Kembali Pikiran Agama Dalam Islam” (Iqbal, 1966: 123) menjelaskan bahwa Nabi Muhammad Saw telah sampai ke tempat paling tinggi yang menjadi dambaan ahli mistik, akan tetapi ia kembali ke dunia untuk menunaikan tugas-tugas kerasulannya. Pengalaman keagamaan yang luar biasa itu tidak menggoda Nabi berhenti untuk mengangkat derajat kaumnya melalui tindakan-tindakan kemanusiaannya. Akan tetapi menjadikannya sebagai kekuatan psikologi untuk mengubah tatanan nilai kemanusiaan pada saat itu. Dengan kata lain, bahwa pengalaman seperti itu justru menjadikan Nabi untuk terlibat langsung dalam sejarah peradaban terkhusus bagi sejarah kemanusiaan ummat. Menganggkat derajat sosial menjadi misi Nabi untuk mengeluarkan umatnya dari kebelengguan jahiliah pada saat. Itulah misi profetik yang dimiliki oleh Nabi Muhammad Saw untuk mengubah tatanan sosial kemasyarakatan yang jahiliah menjadi kaum yang berkesadaran dan berkemampuan secara mandiri.

Konsep Religiusitas

Kader Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah merupakan suatu subyek yang memiliki keterkaitan dalam memerangi kaum yang tertindas sebagai obyek aplikasi gerakan, memperluas kesadaran akan pemaknaan kembali relasi antara konsepsi gerakan yang bertitik tolak kepada religiusitas. Dari ketidak berdayaan, ketidakpastian sosial, sebagai suatu pijakan membangun konstruksi teologis bersama orang-orang yang tertindas.

Dalam kerangka filosofisnya secara bahasa religiusitas ini merupakan landasan utama bagi terciptanya transformasi nilai secara praksis yang harus dimiliki oleh seluruh kader Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah, yang memiliki fungsi secara teoritis maupun secara aksi. Konsepsi yang termaktup dalam nilai kader adalah “Kuntum khaira ummati ukhrijat linnasi tamuruna bilma’rufi wa tanhauna ‘anil munkari wa tu’minuna billahi (kamu adalah umat yang dipilih untuk manusia menyeru kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar dan beriman kepada Allah {Qs Ali Imran [3] 110} )”. Menurut Kuntowijoyo ada empat hal yang tersirat dalam ayat itu, yaitu (1) konsep tentang umat yang terbaik, (2) aktifisme sejarah, (3) pentingnya kesadaran, (4) etika profetik. Pertama, tentang umat yang terbaik dalam islam adalah umat yang dapat mengaktualisasikan nilai-nilai profesionalisme dalam kegiatan dengan penuh tanggung jawab dan penuh dengan kesetiaan dalam melihat fenomena sosial yang terjadi dilingkungannya. Kedua, aktivisme sejarah mengaktualisasikan nilai-nilai tanggung jawab dan loyalitas di tengah-tengah masyarakat dalam keterlibatannya secara langsung bagi kader dalam sejarah. Bahwa kita adalah pelaku sejarah bukan sebagai produk dari sejarah. Ketiga, pentingnya kesadaran. Nilai-nilai ilahiah menjadi pijakan bagi setiap kader untuk mengaktualisasikan aktivisme Islam. Peranan kesadaran inilah yang mendorong setiap kader untuk berperan langsung dalam arus perubahan sosial melalui pemahamannya atas nilai-nilai transedensi keagamaan. Pembedaan atas kesadaran matrealisme dengan kesadaran berislam. Kesadaran materialism Marxisme bertumpu pada superstruktur (kesadaran) berasal dari struktur (kondisi sosial dan basis sosial), akan tetapi berbeda dengan kesadaran ber-islam adalah yang membentuk kesadaran bukanlah ditentukan oleh individu manusia akan tetapi Allah. Inilah yang membedakan kesadaran yang dimiliki oleh umat Islam terkhusus kader ikatan dengan kesadaran yang dimiliki oleh aliran-aliran struktural seperti kesadaran matrealisme. Keempat, etika profetik. Etika profetik ini dimiliki oleh siapa saja. Karena etika profetik ini mendorong individu untuk merubah sebuah ketimpangan yang terjadi di lingkungannya. Selain itu, dalam konsep profetik ini terkhusu kader ikatan Mahasiswa Muhammadiyah dapat menjadi ilmu sebagai aktualisasi diri yang pelambangan dari hasil pengalaman, pengetahuan dan penelitian sosial (analisis sosial) sehingga nanti dapat terhubungkan atau memiliki relasi dalam memahami konteks yang terjadi yaitu amar ma’ruf (untuk menyeru kebaikan), nahi munkar (mencegah kesenjangan sosial atau ke-munkaran) dan selalu beriman kepada Allah Swt dengan melalui ritual-ritual keagamaan yang sering dilakukan seperti shalat, berzakat dan puasa. Itu merupakan sebuah konsep sekaligus praksis sosial yang memiliki landasan dari al-Qur’an sebagai pegangan atau pedoman bagi analsisi kehidupan sosial kemasyarakat kader ikatan. Sehingga setiap gerakannya memiliki kesadaran yang utuh dalam menjalankan amanah kemanusiaan dan membangun fondasi pembaharuan untuk keluar dari ketimpangan sosial dan kebelengguan peran sosial terjadi di tengah-tengah kehidupan ini. Itulah yang dicita-citakan oleh Kuntowijoyo dalam Spirit profetik yang akan menjadi karakteristik gerakan Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah untuk menghalau ketimpangan sosial melalui gerakan-gerakan alternative yang dibangun sehingga nantinya dapat terciptanya purifikasi perubahan sosial yang idcita-citakan.